
“Kopimu kok tidak dihabiskan?,” tanya saya pada seorang teman.
“Lah, tinggal ampas doank gini, apa enaknya?,”jawabnya bertanya balik pada saya.
Dan saya cuma bisa membalas dengan satu anggukan. “Ohh..”
Ampas kopi itu memang tidak menjadi favorit kebanyakan orang. Seperti bagian dari satu keutuhan yang sering terlupakan. Mengendap di bagian bawah gelas yang isinya sudah tak lagi panas. Terbuang menjadi sisa, pahit, tinggal menunggu hanyut di wastafel cucian.
Kopi instan biasanya tidak meninggalkan banyak ampas tersisa. Bubuk kopi yang diseduh mudah larut dengan air panas. Diaduk satu-dua-tiga kali dan bau kopi yang manis segera menyeruak keluar. Kopi instan juga biasanya cepat dingin. Secepat proses pembuatannya. Dan ampasnya nyaris tak bersisa.
Beda dengan kopi bubuk asli dari biji kopi. Tanpa tambahan senyawa kimia lain baunya ketika diseduh pun berbeda. Semua tergantung dari racikan pembuatnya, pahitkah atau manis. Untuk yang satu ini biasanya banyak ampas yang tertinggal di gelas.
Banyak orang suka kopi instan. Tapi saya pribadi lebih menyukai kopi yang saya racik sendiri. Saya biasanya suka dengan komposisi 1sdm kopi dan 1sdt gula. Pahit dan kental. Satu gelas kopi hitam bisa saya tandaskan sampai ampas-ampasnya. Justru ampas membawa sensasi tersendiri ketika minum kopi.
Banyak yang tidak tahu kalau ampas kopi masih memiliki manfaat. Teresa J Bandosz, ahli Kimia di City University of New York menemukan ampas kopi berguna untuk penghilang bau tak sedap (1). Selain itu ampas kopi juga bisa membuat kulit mulus karena kemampuannya mengeksfoliasi kulit mati pada kaki (2). Yang lebih mengejutkan lagi ternyata ampas kopi bisa digunakan sebagai bahan bakar kendaraan dalam bentuk biosolar (3). Hebat kan?
Sayangnya bubuk yang memberikan ‘nyawa’ pada segelas kopi seringkali berakhir di tong sampah. Saya justru kasihan melihat ampas kopi yang akhirnya harus dibuang.. Dicuci bersih bersama kotoran lainnya karena tak diinginkan.
Dibuang karena sudah tidak berguna. Kasihan ya?
Ririn Agustia, 8 Mei 2012
*sumber :
1. http://makassar.tribunnews.com/2012/02/2…
Posted in Tak Berkategori
Di satu pagi yang cerah dia bertanya,’Kamu mau oleh-oleh apa dari sana?’. Saya pun bingung. Bukan bingung memilih satu dari deretan barang yang saya inginkan. Tapi bingung karena memang bukan tipikal saya merengek meminta dibelikan barang ini-itu.
Satu studi dari Harvard menunjukkan ketika membelikan seseorang hadiah itu lebih menyenangkan ketimbang membeli barang itu untuk kita sendiri (sumber: Wikipedia). Sementara kamus Mirriam Webster mendefinisikan kebahagiaan sebagai ‘Good fortune, obsolete, prosperity’. Keduanya memberikan definisi didasarkan atas kepuasan materi. Tapi kalau kata mba Jessie J di lagunya Price Tag, ‘Money cant buy us happiness,’
Tidak usahlah repot-repot membeli barang mahal atau bermerk untuk orang tersayang. Satu pelukan hangat dan segelas kopi di pagi hari, atau bisikan sayang menyambut datangnya pagi di telinga itu sudah cukup. Atau hal paling mudah saja, satu pesan singkat di telepon pintar yang berisi ucapan sayang mengawali hari.
Eh, setidaknya itu berlaku untuk saya ya. Entah untuk orang lain yang memilih mengungkapkan rasa sayang melalui materi. Bukan bermaksud menyindir. Tapi bagi saya mah kehadiran dia sudah bisa mengalahkan enaknya salmon sashimi, atau boneka besar gendut empuk shaun the sheep yang bertengger di pojok jalanan (modus minta dibeliin sebenernya, haha, becanda :p).
Oia, mau tahu apa permintaan saya untuk dia akhirnya? Yaitu tulisan. Iya, satu-dua baris tulisannya yang jauh lebih berharga dari butiran mutiara. Bagi saya, membaca tulisan tangannya yang berantakan itu, mampu membayar lunas rasa rindu selama dia tidak ada di samping.
Bahagia itu sederhana, bukan?
Why is everbody so obsessed
Money cant buy us happiness
Can we all slow down and enjoy right now
Guarantee we’ll be feelin’ alright
Price Tag – Jessie J
Ps: Coba diingat, kapan terakhir kali kita memberikan kejutan kecil untuk pasangan?*uhuk*
Ririn Agustia, 4 Mei 2012.
Posted in Tak Berkategori
Lagi, satu kasus warga negara Indonesia yang alami keprihatinan di
masa pertumbuhan jumlah kalangan ekonomi menengah yang pesat. Adalah
Tinneke Cristin Assa, perempuan gaek berusia 65 tahun yang tergolek
lemah di rumah sakit daerah Depok. Terserang stroke mendadak
membuatnya harus dirujuk ke rumah sakit.
Tapi malang bagi Tinneke. Warga Depok ini dilempar seperti bola
pingpong ke beberapa rumah sakit. Rumah sakit pertama menolak karena
tak memiliki alat pelayanan yang memadai. Kali kedua tubuh tua itu
digotong keluarga berobat, rumah sakit justru menolaknya. Apa sebab?
Sebelumnya, mari saya ceritakan sedikit latar belakangnya. Tinneke
hanyalah seorang pelayan gereja. Besaran upahnya bahkan tak sampai
seratus ribu untuk sebulan. Coba anda bayangkan. Menyebutnya pun sudah
sangat miris. Seakan dunia ini masih belum puas menjajal kesabaran
keluarga, suami Tinneke juga telah dibebaskantugaskan dari tempat
kerjanya.
Nah, masih perlu saya beritahu penyebab ia ditolak di rumah sakit?
Sebenarnya kasus penolakan oleh rumah sakit bukanlah barang baru.
Banyak orang lain di luar sana yang senasib dengan Tinneke. Tidak
hanya satu, dua, tapi ratusan bahkan mungkin ribuan Tinneke yang harus
mengalah duluan dengan penyakit sebelum benar-benar berjuang
melawannya.
Warga miskin yang sehari-hari sudah dipusingkan urusan perut malah
semakin dibuat kelabakan saat mereka diserang penyakit. Tidak sakit
saja sudah sedemikian susah, apalagi kalau sakit.
Keterbatasan finansial membuat jurang akses terhadap fasilitas negara
semakin menganga lebar. Negara yang semestinya berperan sebagai
pengayom dan penjaga warganya seakan menghilang. Tergantikan oleh
penguasa modal, dalam hal ini bisnis kesehatan, yang melayani pasien
sebagai konsumen. Sumber pemasukan dengan penyakit sebagai bensinnya.
Anda punya uang baru kami layani, kalau tidak sila angkat kaki ke
tempat lain.
Di lain pihak, fasilitas layanan kesehatan diklaim terus diperbaiki
oleh pemerintah. Data statistik tiap tahunnya dipertontonkan membaik
mulai dari jangkauan hingga kualitasnya. Tapi kenyataan yang terjadi
di lapangan, yang dialami Tinneke, malah bertolakbelakang dengan
ide-ide kesehatan yang bersifat universal.
Ah, kalau sudah begini memang benar perkataan yang sering saya dengar
sejak lama : ‘Orang miskin jangan sakit’
Ririn Agustia, 24 April 20012
*tulisan diadaptasi dari berita koran Tempo berjudul ‘Saat Orang
Miskin Sakit’ edisi 24 April 2012
Posted in Opinion and Thought
Bapak tua renta penjaja kerupuk kulit dan nenek bertangan satu penjual kipas kertas. Hanya bisa membawa pulang lembaran ribuan, kadang tangan hampa. Tapi di pinggir jalan di bawah sinar matahari yang terik mereka masih bisa tertawa. Entah tertawakan apa.
Tak malukah mereka yang suka mengeluhkan macetnya Jakarta di dalam kendaraan pribadi?
RIRIN AGUSTIA
Posted in Opinion and Thought

Di malam kami berpisah aku hanya banyak terdiam. Melempar senyum seadanya. Tak ada kata maaf ataupun terimakasih terucap. Atas malam-malam yang sebelumnya kami bagi bersama.
Di malam itu airmata juga tak tumpah, meski sesak memenuhi dada. Seperti ada awan gelap menutupi, menjadikan semuanya kelam. Hanya diam dan sepintal senyum getir menyetir perasaan kala itu.
Ia pribadi yang bisa melengkapi pikiranku, meski terkadang kami bersebrangan jalan. Rasa nyaman kudapatkan darinya. Dan aku membutuhkannya seperti ia membutuhkanku. Kami saling membutuhkan, tapi hanya dalam rentang waktu tertentu.
Mungkin sebenarnya kami sudah berpisah sepekan sebelumnya. Ketika masing-masing sudah berjalan sendirian. Ketika sapaan hangat mengawali pagi dan ucapan sayang terlindas rutinitas demi rutinitas. Menjadikan segalanya biasa, hambar.
Kini sudah malam kesebelas. Airmata belum juga tumpah. Namun awan gelap sudah tak lagi menyelimuti. Terimakasih atas waktumu. Terimakasih atas kesediaanmu berbagi meski sesaat. Terimakasih atas malam-malam yang takkan terlupa. Terimakasih, terimakasih, terimakasih..
Posted in Tentang Hati
Search
Featured Video
Recent Comments
-
Obat Herbal Kanker Prostat:
hemmh,,emang bahagis itu sederhana,,yang pent... -
Ririn Agustia:
ada itu yang di tulisan saya. biografinya yan... -
Harlan:
om..ada buku tentang lukas/Rawagede g..? say... -
riri:
Keren Templatenya dut!!!!... -
ahmad:
mebel jati,kasihan ha......
Hot Topics
- Pantaskah Perempuan Merokok?
59 comments received - Facebook?twitter?google+?
16 comments received - Pendidikan Untuk Rakyat, Rakyat yang Mana?
15 comments received - Gak sinetron..Gak Musik..Indonesia oh Indonesia
10 comments received - Siapa Sebenarnya Lukas Kustaryo (Tragedi Pembantaian Rawa Gede 1947)
6 comments received
Categories
- Tak Berkategori (47)
- Fiksi (4)
- Tentang Hati (12)
- Opinion and Thought (25)
Archives
- May 2012 (2)
- April 2012 (1)
- March 2012 (1)
- February 2012 (1)
- November 2011 (2)
- October 2011 (5)
- September 2011 (7)
- August 2011 (3)
- July 2011 (4)
- May 2011 (1)
- April 2011 (3)
- March 2011 (2)
0
Comments