Baca baca baca
Friday November 18th 2011, 19:45
Filed under: Tak Berkategori

Sore tadi saya kembali meliput isu kesehatan. serasa canggung, soalnya sudah lumayan lama tidak menulis isu itu.

Benar saja kan, begitu duduk dalam ruangan jumpa pers banyak kata-kata yang tidak saya pahami. Prevalensi penderita penyakit X di Indonesia blablabla, tingkat morbiditas penyakit anu. Haduh..Semacam pukulan telak di muka rasanya tadi.

Banyak istilah kedokteran yang segera saya google. Gara-gara itu akibatnya laporan tulisan pun jadi terlambat dan kurang mendalam. Tanya ke teman ya kok gengsi. Apalagi tanya istilah ke narasumber, itu namanya membunuh hargadiri sebagai wartawan karena kurang paham lapangan.

Ah padahal isu semacam itu sangat menarik buat saya. Dan isu itu juga, menurut pendapat pribadi saya, jauh lebih penting dan menyentuh pembaca langsung ketimbang kasus korupsi.

Karena kejadian hari ini saya memutuskan untuk lebih banyak baca jurnal kesehatan dan berita kesehatan lainnya. Mengejar ketertinggalan dari teman-teman satu pos yang sudah jauh lebih lihai dari saya.

Salah seorang redaktur saya juga pernah bilang kalau wartawan itu harus banyak membaca. Tidak hanya membaca soal isu liputannya, tapi juga diluar itu. Dengan baca kata dia juga bisa memperbaiki kualitas tulisan kita.

Contoh saja karakter kartun TinTin yang pergi ke perpusatakaan malam-malam demi mencari tahu soal misteri kapal Unicorn. Dia tidak peduli jam demi menulis satu isu. Dan kerja kerasnya terbukti dengan tulisan dia yang banyak buat geger.

Hayuklah kalau begitu. Mari membaca!



The Script - Nothing
Wednesday November 16th 2011, 16:01
Filed under: Tak Berkategori

The Script - Nothing

“They all may think I’m crazy but to me is a perfect sane”



Masih Adakah Kepekaan di Diri Kita?
Friday October 28th 2011, 13:45
Filed under: Opinion and Thought

Beberapa waktu lalu kita dihebohkan dengan meninggalnya seorang bocah berusia 2 tahun di China. Yue-Yue, balita mungil itu tewas setelah terluka parah karena dilindas dua mobil pick-up di kawasan pertokoan.

Yang mengejutkan adalah setelah Yue-Yue tertabrak orang-orang disekitarnya tidak ada yang peduli. Satu, dua, tiga melintas tanpa menengok sedikitpun ke arah tubuh Yue yang sudah bersimbah darah itu. Bahkan ada seorang Ibu yang menggandeng anaknya malah melengos begitu saja melewati Yue.

Baru di pejalan kaki ke 18 (kalau tidak salah) yang ’sadar’ ada satu bocah perempuan tergeletak tak berdaya di jalan. Dibawanya tubuh Yue yang sudah lemas itu ke pinggir jalan. Tak lama, barulah orangtua si anak muncul menggendong Yue ke rumah sakit.

***

Semua adegan itu terekam di kamera CCTV pertokoan. Terlihat dengan jelas bagaimana masa bodo’nya orang-orang disana.

Dan dari rekaman kamera itu berita soal Yue dengan cepat tersebar ke penjuru dunia. Banyak orang menghujat dan menghakimi belasan orang yang asal lewat begitu saja.

Mereka mempertanyakan kemana hati nurani orang-orang itu?Melihat bocah perempuan itu merenggang nyawa di pinggir jalan.

‘Buat apa saya tolong?nanti dipikir saya yang bersalah?’

‘Ah, saya tidak kenal siapa anak itu,’

Mungkin itu yang lewat dalam pikiran orang-orang di pertokoan yang melintas depan Yue. Kalau memang benar, ah, saya tidak tahu mau berkata-kata apa lagi.

***

Tapi tidak usahlah melihat jauh-jauh ke China. Sebenarnya kejadian tentang minimnya kepekaan sering terlihat di sekitar kita. Contoh kecil saja soal memberikan duduk ke orang tua, ibu hamil, atau ibu membawa anak di bus kota.

Tidak banyak yang sadar dan rela bangun dari tempat duduknya untuk beri kursinya ke mereka-mereka yang memang lebih layak. Bahkan terkadang ada yang pura-pura tertidur atau asyik sendiri mendengar musik dari mp3 miliknya biar seakan-akan dia tidak ‘ngeh’ ada orang yang seharusnya diberi tempat duduk.

Atau contoh lainnya kejadian yang saya lihat dengan mata kepala saya sendiri. Bapak-bapak tua yang mendorong gerobak sayurnya di jalanan sempit. Bawaan bapak itu masih banyak, berat. Lalu melintaslah dari arah berlawanan mobil minivan yang memaksa lewat jalan itu. Tak pelak, gerobak bapak tua dan mobil itu saling menyerempet. Lalu apa yang keluar dari mulut pemilik mobil itu?

‘Heh!mobil saya kalau lecet awas ya!’katanya yang segera pergi tanpa membantu atau bertanya bagaimana kondisi si Bapak dan barang dagangannya.

Padahal, tidak ada yang terluka dari kejadian itu. Kecuali sayurmayur si bapak yang jatuh dan rusak ke jalanan. Mobil si pengendara juga masih mulus tak tergores apapun.

Dari contoh itu saja, saya lihat apa yang terjadi ke Yue juga yang lain itu sebuah kasus nyata betapa sudah tergerusnya kepekaan dan kepedulian kita ke sesama. Jangan-jangan mungkin memang benar adanya kalau kita semua sudah tidak punya lagi rasa empati. Tidak usah peduli selama itu bukan terjadi ke saya atau orang yang saya kenal.

Ah, semoga saja itu semua tidak benar. Semoga saja masih ada orang-orang di luar sana yang punya setitik rasa di dalam hatinya melihat ketidakseimbangan di luar.

Semoga saja, kita sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna masih memiliki dan mau memberi hati sedikit saja ke mereka yang tidak beruntung di luar sana.

RIRIN AGUSTIA



Bayi Terlantar Karena Orangtua Jadi TKI
Wednesday October 26th 2011, 13:13
Filed under: Tak Berkategori

Mataram – Ayu, balita berusia 18 bulan harus mengalami nasib malang karena bergizi buruk. Badannya kurus kering, perutnya membusung dengan tulang rusuk yang terlihat jelas. Bola matanya terlihat berputar saat menyaksikan teman-teman seumurannya berlarian dan tertawa di depan halaman rumah Ayu yang beratapkan kayu serabut itu. Sementara Ayu hanya bisa duduk lemah di pangkuan kerabatnya dan sesekali menggoyangkan kakinya seakan ingin ikut bermain.

Orang tua Ayu telah bercerai sebelum Ayu dilahirkan. Ayahnya dikenal sebagai lelaki yang sering kawin-cerai. Ibu kandung Ayu sendiri menjadi perempuan kesembilan yang diperistri.

Malang bagi Ayu, begitu ia lahir, Ibunya meninggalkannya untuk bekerja sebagai Tenaga Kerja Indonesia di Arab Saudi untuk memenuhi biaya hidup. Sementara ayahnya, yang telah kembali menikah, tidak dapat mencukupi kebutuhan sehari-hari Ayu.

“Ayu tidak dapat ASI setelah ibunya ninggalin dia pas umur 1 bulan,”ujar salah seorang kerabat Ayu saat ditemui di kediamannya yang berukuran 3×4 dan berdinding kayu tersebut.

Terpaksa, Ayu yang dilahirkan normal dengan bantuan dukun dirawat secara bergantian oleh kerabatnya. Terkadang neneknya atau kakeknya yang merawat dia. Tidak jelas bagaimana cara mereka mengasuh Ayu selama.

“Makanan kita tidak pasti, susu juga baru dapat sebulan terakhir ini dari Puskesmas,”kata Nenek yang merawat Ayu selama ini.

Bahkan, bayi malang itu beberapa pernah ditaruh di kandang ayam oleh kakeknya. Sebab, tidak ada orang yang bisa terus seharian menjaganya.

Tinggal di Desa Jenggalih, Tanjung, Lombok Utara, Ayu menjadi salah satu dari ribuan anak yang mengalami gizi kurang dan buruk. Berdasarkan hasil survey Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Utara, setidaknya terdapat sekitar 2700 balita bergizi kurang dan 500 balita bergizi buruk. Sementara Nusa Tenggara Barat memang menjadi salah satu daerah pengirim TKI terbanyak. Untuk Kabupaten Lombok Utara sendiri, jumlah mencapai seribu tenaga kerja yang sebagian besar adalah perempuan.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Utara Benny Nugroho berujar, balita yang bernasib seperti Ayu tidak hanya satu saja. Dari 5 kecamatan yang ada di KLU, katanya lagi, “Masih banyak Ayu-Ayu lain disana,”ujar Benny kepada Tempo, Jumat 30 September 2011.

Untuk mengantisipasinya, KLU lantas mengajukan usulan dikeluarkannya larangan bagi perempuan yang memiliki anak usia dibawah dua tahun untuk berangkat bekerja sebagai TKI. Larangan yang baru sekadar usulan itu rencananya akan diajukan ke Bupati untuk kemudian diharapkan dapat diwujudkan menjadi peraturan daerah.” Inginnya kalau ibu yang masih punya bayi jangan seperti itu, ijinnya kita minta dipersulit,”jelas Benny.

Peraturan itu, kata Benny, diharapkan dapat membantu mengurangi jumlah balita penderita gizi buruk dan kurang. Selain itu, pihaknya juga berupaya dengan memberikan bantuan berupa telur dan biskuit Makanan Pendamping ASI (MPASI) selama tiga bulan mulai dari Agustus lalu. “Kita inginnya tidak ada lagi yang seperti Ayu.”imbuhnya.

RIRIN AGUSTIA



Sudah Pagi, Mari Pulang, Sayang..
Monday October 17th 2011, 17:30
Filed under: Tak Berkategori

Sudah Pagi

Pagi belum juga tiba. Matahari seakan enggan keluar dari kungkungan emasnya. Awan putih bulat berkomplot menutupi si raja.

Di bawah ayam berkokok dua tingkat lebih kecil dari biasa. Dari dalam rumah berjendela besar dua-dua erangan bocah terdengar. Berbalas dengan teriakan bunda membangunkan.

Penjaja sayuran menyeret sendal jepit usangnya berjalan pelan. Didorongnya gerobak triplek turun temurun keliling kampung. Bau amis ikan asin dan wangi segar sayuran dari kebun menyeruak bersatu.

Ah, sudah pagi rupanya.

***

Mari Pulang

Hari hampir lengkap, senja berwarna lembayung sudah mengintip diatas kepala, bergegas kita rapikan resahan yang terserak.

Mari pulang, sayang. Sebelum daun putri malu kembali berkembang dan angin malam meniup tengkuk menggigil kedinginan.

***

Merampok Malam

Bulan datang merampok malam. Menjadi primadona langit abu-abu di antara pendaran cahaya bintang.

Satu, dua, tiga, terlelap memasuki dunia mimpi. Empat, lima, enam terjaga menjaga malam. Tujuh, delapan, sembilan berkeliaran mengeruk yang tersisa dari pagi.

Serupanya mereka sama. Dalam pelukan malam nyaman didapat. Berlindung di bawah nyanyian semilir angin. Menunggu pagi kembali berkuasa.